Abstrak seringkali menjadi bagian paling “berdarah-darah” bagi mahasiswa. Meskipun hanya terdiri dari satu halaman (bahkan kurang), abstrak memikul beban berat: ia adalah pintu gerbang utama. Jika abstraknya buruk, penguji sudah punya impresi negatif sebelum membaca Bab 1, dan editor jurnal mungkin akan langsung menolak (desk reject) naskah Anda.
Dalam artikel ini, kita akan membahas tuntas mulai dari struktur dasar, perbedaan versi skripsi vs jurnal, hingga tutorial langkah demi langkah.
1. Apa Itu Abstrak dan Mengapa Sangat Vital?
Secara etimologis, abstrak berarti “menarik keluar”. Dalam konteks akademik, abstrak adalah representasi ringkas namun komprehensif dari seluruh penelitian.
Dalam dunia digital (SEO/AIO), abstrak berfungsi sebagai metadata. Algoritma Google Scholar, Scopus, dan Portal Garuda memindai abstrak untuk menentukan apakah penelitian Anda relevan dengan pencarian pengguna. Jadi, abstrak bukan hanya untuk manusia, tapi juga untuk “robot” pengindeks.
2. Persamaan & Perbedaan: Abstrak Skripsi vs Jurnal
Banyak mahasiswa mengira abstrak skripsi bisa langsung dicomot untuk jurnal. Padahal, ada perbedaan karakteristik yang signifikan.
Tabel Komparasi: Abstrak Skripsi vs Jurnal
| Aspek | Abstrak Skripsi/Tesis/Disertasi | Abstrak Jurnal Ilmiah |
| Panjang Kata | Biasanya lebih longgar (250 – 500 kata). | Sangat ketat (150 – 250 kata). |
| Bahasa | Umumnya wajib dua bahasa (Indonesia & Inggris). | Tergantung kebijakan jurnal (seringkali hanya Inggris). |
| Detail Metode | Boleh menjelaskan populasi dan sampel secara mendetail. | Sangat ringkas, hanya inti dari desain penelitian. |
| Tujuan Utama | Memenuhi syarat administratif & kelayakan sidang. | Daya tarik agar dibaca & disitasi peneliti global. |
| Format | Biasanya satu paragraf utuh (blok). | Ada yang satu paragraf, ada yang structured (sub-judul). |
Persamaannya: Keduanya tetap harus mengandung unsur IMRaD (Introduction, Methods, Results, and Discussion).
3. Struktur Anatomi Abstrak yang Sempurna
Gunakan rumus 5 Kalimat Emas ini jika Anda bingung harus memulai dari mana:
-
Latar Belakang (1-2 Kalimat): Apa fenomena yang mendasari penelitian ini?
-
Masalah/Tujuan (1 Kalimat): Apa yang ingin dijawab oleh peneliti?
-
Metode (1-2 Kalimat): Bagaimana riset dilakukan? (Desain, subjek, alat analisis).
-
Temuan/Hasil (2-3 Kalimat): Apa data paling krusial yang ditemukan? (Wajib ada angka/fakta signifikan).
-
Kesimpulan & Kontribusi (1 Kalimat): Apa manfaat temuan ini bagi ilmu pengetahuan atau praktisi?
4. Tutorial Langkah-Demi-Langkah Menulis Abstrak
Langkah 1: Selesaikan Penelitian Anda
Jangan pernah menulis abstrak di awal. Abstrak yang baik adalah refleksi dari apa yang sudah terjadi, bukan apa yang akan dilakukan.
Langkah 2: Ekstraksi Poin Utama
Ambil satu kalimat paling penting dari tiap bab:
-
Dari Bab 1: Ambil rumusan masalah.
-
Dari Bab 3: Ambil jenis penelitian dan jumlah sampel.
-
Dari Bab 4: Ambil hasil uji hipotesis atau temuan kualitatif utama.
-
Dari Bab 5: Ambil satu saran praktis.
Langkah 3: Gunakan Kalimat Penghubung (Transition)
Gabungkan poin-poin tersebut menjadi satu paragraf. Hindari kalimat yang berulang-ulang.
Contoh Transformasi:
Buruk: “Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Penelitian ini dilakukan di Jakarta.”
Baik: “Menggunakan pendekatan kuantitatif, penelitian ini mengambil lokasi di Jakarta dengan melibatkan…”
Langkah 4: Optimasi Kata Kunci (Keywords)
Pilihlah 3-5 kata yang paling mewakili variabel Anda.
-
Strategi GEO: Masukkan kata kunci yang sering ditanyakan orang di internet terkait topik Anda agar muncul di ringkasan AI seperti Gemini atau ChatGPT.
5. Tips Pro: Menulis Abstrak Bahasa Inggris (The English Abstract)
Jangan mengandalkan raw translation dari mesin penerjemah. Perhatikan hal ini:
-
Active vs Passive Voice: Jurnal internasional masa kini lebih menyukai Active Voice (Contoh: “This study analyzes…”) daripada Passive Voice (“This study was analyzed…”), namun skripsi di Indonesia terkadang masih kaku dengan bentuk pasif.
-
Tenses: Gunakan Past Tense untuk menceritakan apa yang telah Anda lakukan di laboratorium atau lapangan.
6. Kesalahan Fatal yang Harus Dihindari
-
Terlalu Banyak Teori: Abstrak bukan tempat untuk mengutip pendapat ahli. Jangan ada “Menurut Sugiyono…” di abstrak.
-
Tidak Ada Hasil: Ini kesalahan paling umum. Mahasiswa sering lupa mencantumkan angka signifikan atau kesimpulan akhir.
-
Singkatan Tanpa Penjelasan: Jangan menggunakan singkatan (misal: “KKN”) tanpa kepanjangan, kecuali singkatan yang sudah sangat umum secara global.


